basic industry and chemical Markets

TPIA Investasi USD 42 Juta untuk Pabrik Butadiene

Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA), perusahaan petrokimia terintegrasi terbesar di
Indonesia, menyiapkan dana USD 42 juta untuk ekspansi kapasitas butadiene di Cilegon,
Banten. Pabrik baru ini akan meningkatkan kapasitas produksi butadiene perusahaan hingga
sebesar 37%.

Suryandi, Direktur TPIA, mengatakan anak usaha perseroan, yakni PT Petrokimia Butadiene
Indonesia (PBI) telah menandatangani perjanjian dengan Lummus Technology Inc, perusahaan
penyedia teknologi dan infrastruktur untuk industri energi dari Amerika Serikat (AS).
Lummus akan menyediakan lisensi dan desain teknik teknologi BASF (ekstraksi butadiene)
untuk ekspansi produksi butadiene di komplek Naptha Cracker milik TPIA di Cilegon, Banten.

PBI mengoperasikan pabrik butadiene di Cilegon dengan total kapasitas 100KTA. Pasca
ekspansi, kapasitas produksi butadiene akan meningkat menjadi 137KTA.

PBI juga memberikan kontrak jasa engineering, procurement and construction (EPC) kepada
Toyo Engineering Korea Ltd (Toyo-Korea) dan PT Inti Karya Persada Teknik (IKPT) untuk
pembangunan pabrik tersebut. “Penyelesaian proyek dan mulai beroperasinya pabrik diharapkan
dapat dilakukan pada kuartal III 2018,” kata Suryandi.

TPIA telah menyelesaikan ekspansi cracker pada 2015 sehingga perusahaan memiliki kelebihan
produksi mixed C4 yang merupakan hasil peningkatan produksi naptha cracker hingga 43%.
Mixed C4 digunakan sebagai bahan baku produksi butadiene. Butadiene akan digunakan sebagai
bahan baku untuk pabrik karet sintetis TPIA di masa mendatang. “Untuk menambah nilai dari
kelebihan produksi mixed C4, perseroan memutuskan untuk memulai ekspansi kapasitas pabrik
butadiene,” kata Suryandi.

Pada perdagangan Senin (23/1), harga saham TPIA stagnan di Rp 21.450. (*)

Follow Us

Indexes