Finance Markets

Tren Pasar Obligasi Rupiah Positif

Tren pasar obligasi rupiah pasca kenaikan peringkat Indonesia ke level investasi oleh Standard and Poor’s dinilai positif. Aliran dana asing ke pasar obligasi akan berlanjut karena imbal hasil yang menarik dan stabilnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Handy Yunianto, Head of Fixed Income Research Mandiri Sekuritas, mengatakan sepekan setelah kenaikan peringkat S&P, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah tenor 10 tahun turun sekitar 4 bps ke level 6,95%. Aliran dana asing yang masuk ke obligasi tersebut mencapai Rp 13,14 triliun.

Yield obligasi pemerintah Indonesia itu lebih tinggi dibandingkan yield obligasi pemerintah India yang sebesar 6,66%, Vietnam sebesar 6%, Filipina sebesar 5,16% atau China sebesar 3,75%. Selisih yield obligasi pemerintah Indonesia dengan yield obligasi pemerintah AS saat ini mencapai 470 bps. “Yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun yang wajar menurut kami berada di 6,85%,” kata Handy.

Penerbitan bersih obligasi pemerintah hingga 23 Mei 2017 mencapai Rp 239,4 triliun. Realisasi tersebut sudah mencapai 59,8% dari target penerbitan obligasi pemerintah 2017 sebesar Rp 400 triliun.

Pasar obligasi korporasi tidak kalah marak. Penerbitan obligasi korporasi hingga Mei 2017 mencapai Rp 61,4 triliun, melejit 58,65% dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp 38,7 triliun. Perbankan menjadi penerbit terbesar obligasi dengan porsi 27,8% disusul sektor multifinance sebesar 24,1% dan infrastruktur sebesar 11,5%.

Meski demikian, investor perlu mencermati beberapa risiko yang dapat memengaruhi pasar obligasi rupiah. Risiko yang dimaksud adalah risiko politik dari pemilu di Eropa dan Brexit, devaluasi renminbi dan hard landing ekonomi China, serta kenaikan Fed Fund Rate yang lebih cepat dari proyeksi pasar. Dari sisi domestik, jika rupiah melemah ke Rp 14.000 per dolar AS, aliran modal asing akan berbalik arah. (*)

Follow Us

Indexes