Finance Markets

OJK Tingkatkan Pangsa Pasar Keuangan Syariah

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan meningkatkan pangsa pasar keuangan syariah di Indonesia menjadi lebih dari 5% dari total pangsa pasar industri keuangan pada 2019. Hal ini dilakukan dengan memperluas akses terhadap produk dan layanan keuangan syariah, menambah ketersediaan produk, memanfaatkan fintech, dan memperbaiki koordinasi dengan para pemangku kepentingan.

Muliaman D Hadad, Ketua Dewan Komisioner OJK, mengatakan pangsa pasar keuangan syariah saat ini mencapai 5,18% setelah Bank Aceh dikonversi menjadi bank umum syariah. Namun, hingga kuartal I 2017 ada beberapa produk syariah yang pangsa pasarnya di atas 5%. Total aset industri keuangan syariah di luar saham syariah mencapai Rp 889,28 triliun, meningkat 26,21% dibandingkan 2015.

“Aset perbankan syariah mencapai 5,29% dari total aset perbankan, sukuk negara mencapai 16,45% dari total surat berharga negara yang beredar, lembaga pembiayaan syariah sebesar 7,27% dari total pembiayaan, lembaga jasa keuangan khusus sebesar 10,11%, lembaga keuangan mikro syariah 23,72%, dan saham syariah mencapai 54,89% dari kapitalisasi BEI,” kata Muliaman.

Di sisi lain, ada produk syariah yang pangsa pasarnya masih di bawah 5%, seperti sukuk korporasi sebesar 3,77% dari seluruh nilai sukuk, nilai aktiva bersih (NAB) reksadana syariah sebesar 4,75% dari total NAB reksadana, dan asuransi syariah 3,47%.

OJK meluncurkan Roadmap Pengembangan Keuangan Syariah Indonesia 2017-2019 untuk mewujudkan industri keuangan yang berkelanjutan dan menjadikan Indonesia sebagai pusat keuangan syariah dunia. Dalam Global Islamic Finance Report 2016, Indonesia berada di posisi ke-6 Islamic Finance Country Index, naik satu peringkat dibandingkan tahun sebelumnya. Ernst & Young dalam laporan World Islamic Banking Competitiveness Report 2013-2014 memprediksi Indonesia akan menjadi salah satu kekuatan besar di peta keuangan syariah dunia bersama Qatar, Saudi Arabia, Malaysia, Uni Emirat Arab, dan Turki. (*)

Follow Us

Indexes