Consumer Headline Industry & Trade Markets

Tarif Taksi Online Naik, Harga Saham BIRD Melonjak

Kementerian Perhubungan menerbitkan aturan baru terkait Taksi Online dengan Peraturan Menteri Nomor 26 Tahun 2017. Aturan-aturan ini membuat taksi online dapat dilihat berkompetisi secara adil dengan taksi konvensional. Dampaknya adalah saham PT Blue Bird Tbk (BIRD) sempat naik 78% sejak penutupan tahun 2016 di rekor tertinggi Rp5.325/ saham. Sebaliknya,  kompetitor utama Blue Bird yaitu Express, malah mengalami penurunan harga saham dari Rp170 jadi Rp118.

 

Sebanyak 4 point aturan baru mengenai taksi online yang patut dicatat. Pertama adalah batas tarif atas dan bawah berdasarkan wilayah. Di wilayah I yang meliputi Sumatera, Jawa dan Bali, tarif batas bawahnya sebesar Rp3.500 sedangkan tarif batas atasnya Rp6.000. Wilayah II yang meliputi Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua tarif batas bawahnya Rp3.700 sementara tarif batas atasnya Rp6.500. Penentuan tarif tersebut dengan menimbang beberapa komponen: biaya tetap, biaya tidak tetap, biaya pulsa, biaya penyediaan aplikasi, biaya upah minimum per provinsi, biaya asuransi penumpang dan pengemudi, serta asuransi kendaraan.

 

Kedua adalah bahwa STNK berbadan hukum, di mana pengemudi bisa melampirkan Perjanjian Kerjasama dengan menjadi anggota Koperasi agar STNK tetap atas nama pribadi. Ketiga bahwa setiap pemerintah daerah dapat menetapkan kuota kendaraan taksi online sesuai kebutuhan masing-masing setelah berkonsultasi dengan pemerintah pusat.  Keempat adalah penetapan pajak. Keempat point ini memang tampak memberatkan sekaligus memberikan kesempatan yang baru untuk kedua jenis taksi untuk bersaing secara adil.

 

Di pihak kenaikan harga saham BIRD tidak melulu karena terbitnya aturan ini. BIRD pada tahun 2016 dan triwulan I 2017 mampu mempertahankan pendapatannya, walaupun sedikit turun. Pendapatan BIRD turun 12,4% di tahun 2016 dan 18,4% di triwulan I-2017. Laba bersihnya juga turun 38,4% di 2016 dan  14,5% di 2017.

 

Selain itu BIRD juga melakukan berbagai usaha untuk memperkuat bisnisnya, salah satunya dengan bekerjasama dengan GO-JEK untuk mengembangkan GO-BIRD. Selain itu BIRD juga sedang mengembangkan bisnis shuttle bus di wilayah Jabodetabek dan transportasi bandar udara. Apalagi BIRD juga sudah masuk indeks MSCI per tanggal 15 Mei 2017. Ini memungkinkan investor asing lebih agresif dalam berinvestasi di saham BIRD.

 

Sebaliknya TAXI tampak lebih terpukul. Pendapatan dan laba bersihnya turun lebih signifikan dibandingkan BIRD. Bahkan di tahun 2016 TAXI mencatat kerugian Rp184,5 miliar setelah penurunan pendapatan sebesar 36,3%. Kerugian ini berlanjut di triwulan-I 2017 sebesar Rp58,5 miliar didorong oleh penurunan pendapatan sampai dengan 62,8%.