Finance Headline Markets

BNGA, Bank Berkualitas BUKU IV dengan Harga BUKU III

PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) resmi menjadi bank BUKU IV per Juni 2017 ini, sehingga bank BUKU IV di Indonesia kini berjumlah 5 buah bank. Di antara kelima bank tersebut, harga saham BNGA menurut PBV (price-to-book value) adalah yang terkecil, bahkan di bawah nilai buku per saham.

 

Per Maret 2017, tercatat modal inti BNGA mencapai Rp 32,1 triliun. Bersamaan dengan peningkatan modalnya di atas Rp30 triliun, BNGA juga mencatatkan peningkatan yang signifikan dalam kinerja keuangannya. Return on Asset (ROA) naik menjadi 1,44% dari 0,66%, sementara Return on Equity (ROE) naik jadi 7,79% dibandingkan 3,76% di 2016. Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) turun jadi 86,32% dari 93,76% dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) naik jadi 98,50% dibandingkan 97,71% di 2016. Saat ini, CIMB pun telah berada di posisi bank terbesar kelima dalam hal aset, kredit, dana pihak ketiga, serta jumlah kantor cabang dan ATM di Tanah Air.

 

Namun  bahkan dengan perkembangan menggembirakan ini, harga saham BNGA masih berada di bawah 1 kali PBV. Padahal rata-rata bank BUKU IV lainnya adalah  2,46 kali. Harga 1 kali PBV ini sangat serupa dengan rata-rata bank BUKU III yang hanya 1,29 kali.

 

Harga BNGA sudah menguat sejak akhir Desember 2016 sebesar 42% ke Rp1.205, bahkan sempat menyentuh rekor Rp1.355 di 22 Mei 2017. Akan tetapi nampaknya pasar belum merespon secara positif pencapaian BNGA untuk masuk ke BUKU IV. Bahkan sejak Mei, volume perdagangan saham BNGA  tampak turun signifikan.

 

BNGA juga tampaknya tidak banyak dilirik oleh analis dibandingkan bank-bank lain di BUKU IV. Sejak Januari tahun ini baru kira-kira 3 laporan riset yang membahas tentang BNGA dengan harga target rata-rata Rp1.440. Angka ini mencerminkan PBV 1 kali. Bandingkan ini dengan bank-bank BUKU IV lainnya paling sedikit harga targetnya mencerminkan PBV 1,5 kali, bahkan mencapai 3,5 kali seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).

 

Beberapa risiko investasi yang dikemukakan oleh analis adalah tipisnya likuiditas mengingat LDR BNGA yang tinggi, 98,50%, besarnya bisnis kartu kredit pada porsi pendapatan BNGA, serta rasio NPL yang tinggi terutama karena segmen konsumen yang menjadi fokus BNGA. Memang kinerja BNGA saat ini belum menyamai peers-nya di BUKU IV, bahkan di beberapa bidang masih lebih buruk daripada bank-bank BUKU III. Kalau manajemen BNGA mampu untuk memperbaiki kinerja ini maka niscaya pasar akan mengapresiasi harga saham BNGA hingga sama dengan peers-nya di BUKU IV.