Consumer Markets

BEI Minta AISA Beri Penjelasan ke Publik

Bursa Efek Indonesia (BEI) meminta Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA) menjelaskan kepada publik terkait dugaan kecurangan dalam perdagangan beras premium yang dilakukan salah satu entitas usahanya. Perseroan juga diminta untuk menyisihkan dana untuk mengantisipasi sanksi denda yang diakibatkan kasus ini.

Tito Sulistio, Direktur Utama BEI, mengatakan BEI meminta AISA untuk melaksanakan paparan publik (public expose) insidental selambat-lambatnya pada 25 Juli 2017. “Kami menanyakan apakah ada dampak dari masalah ini terhadap kelangsungan bisnis perseroan. Ini kan cucu perusahaan, tidak terlalu material,” kata Tito.

Dugaan praktik kecurangan dalam perdagangan beras premium muncul setelah Satuan Tugas Ketahanan Pangan dan Operasi Penurunan Harga Beras Mabes Polri menggerebek gudang milik Indo Beras Unggul (IBU) di Bekasi, Kamis (20/7) malam. Gudang tersebut diduga melakukan praktik curang dalam penjualan beras dengan modus mengganti kemasan beras bersubsidi dengan kemasan beras bermerek dan dijual dengan harga lebih mahal. Indo Beras Unggul dimiliki AISA secara tidak langsung melalui anak usahanya Dunia Pangan.
Tito mengatakan, jika dugaan tersebut terbukti, perusahaan bisa dikenai denda Rp 4 miliar atas pelanggaran pasal 141 Undang-Undang No 18 Tahun 2012 tentang Pangan. “Kalau memang ada denda, sebaiknya disiapkan dananya. Kalau mereka merasa tidak bersalah, silakan dijelaskan kepada publik,” kata Tito.

Sjambiri Lioe, Koordinator Bidang Keuangan AISA, mengatakan perseroan akan mengadakan paparan publik pada Selasa (25/7). “Hari ini kami diminta Kadin untuk berbicara mengenai pengalaman IPO. Kalau yang lain-lainnya, kami akan public expose besok,” kata Sjambiri.

Dalam keterangan tertulis kepada BEI, manajemen perseroan menyatakan akan bertindak kooperatif. Jo Tjong Seng, Direktur AISA, mengatakan IBU membeli gabah dari petani dan beras dari penggilingan lokal, bukan beras subsidi BULOG. Produksi beras kemasan premium dilakukan sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) dan ISO 22000 tentang food safety dan GMP.

Harga saham AISA merosot dan mengalami auto rejection (AR) setelah turun 24,9% ke level 1.205, Jumat (21/7). Pada sesi pertama perdagangan Senin (24/7), harga saham AISA sempat menyentuh level Rp 905 sebelum naik kembali ke level Rp 1.140. (*)

About the author

Hari Widowati

Add Comment

Click here to post a comment