Risiko Sistematis di Sektor Konstruksi Meningkat
konstruksi

Risiko Sistematis di Sektor Konstruksi Meningkat

Saham-saham di sektor konstruksi akan menghadapi tantangan di semester II 2017. Risiko sistematis di sektor ini meningkat karena belanja pemerintah di sektor infrastruktur diestimasi tertekan oleh kebutuhan biaya persiapan Asian Games 2018 dan Pemilihan Umum (Pemilu) 2019.

Franky Rivan, Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, mengatakan secara historis sejak 2005 terlihat peningkatan anggaran subsidi menjelang pemilihan umum (Pemilu). Beberapa agenda besar, seperti redenominasi dan rencana pemindahan ibu kota negara ke Palangkaraya, juga berpotensi menekan anggaran pemerintah.

“Dalam skenario yang lebih baik, di mana pemerintah tidak berubah menjadi populis dengan menaikkan anggaran subsidi dan menunda agenda besar di atas, tekanan anggaran infrastruktur tetap akan terjadi karena biaya-biaya untuk Asian Games 2018 dan Pemilu 2019,” kata Franky.

Meskipun pemerintah menyatakan berkomitmen terhadap pembangunan infrastruktur, beberapa perusahaan konstruksi menunjukkan peningkatan di account receivable days. Pada 2015, account receivable days mencapai 222,3 hari kemudian menjadi 288,4 hari pada 2016 dan diestimasi mencapai 306,7 hari pada 2017. Hal ini menunjukkan perusahaan kontruksi semakin lama menerima pembayaran dari pemberi proyek. Gross margin di sektor konstruksi juga menunjukkan penurunan dari 15% pada 2016 menjadi 14% pada 2017.

Mirae Asset mengubah rekomendasi dari overweight menjadi netral untuk saham-saham di sektor konstruksi. “Kami memotong target price di seluruh perusahaan konstruksi dan mempertahankan Wijaya Karya Tbk (WIKA) sebagai top pick di sektor ini,” kata Franky.

Mirae Asset merekomendasikan BUY saham WIKA dengan target harga Rp 3.200. (*)

Leave a Reply

Close Menu