Markets Mining & Energy

ANTM Merugi Rp 496,12 Miliar

Aneka Tambang Tbk (ANTM) mencatat rugi bersih Rp 496,12 miliar pada semester I 2017 dibandingkan laba Rp 11,03 miliar pada semester I 2016. Kerugian perseroan disebabkan oleh peningkatan beban keuangan dan kerugian pada entitas asosiasi dan ventura bersama.

Laporan keuangan ANTM menunjukkan penjualan perseroan pada semester I 2017 turun 27,6% menjadi Rp 3,01 triliun dibandingkan Rp 4,16 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Di sisi lain, beban keuangan meningkat 114,99% menjadi Rp 304,17 miliar sedangkan kerugian pada entitas asosiasi dan ventura bersama melonjak 178,09% menjadi Rp 162,49 miliar. ANTM mencatat EBITDA sebesar Rp 361,8 miliar pada semester I 2017, tumbuh 35% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Arie Prabowo Ariotedjo, Direktur Utama ANTM, mengatakan kinerja keuangan perseroan pada semester I 2017 dipengaruhi oleh penurunan volume penjualan komoditas feronikel dan emas serta volatilitas harga komoditas. Harga rata-rata nikel pada semester I 2017 mencapai USD 4,55 per pon sedangkan harga emas USD 1.272 per oz.

Volume produksi feronikel perseroan naik 12% menjadi 9.327 ton nikel dalam feronikel (TNi). Namun, volume penjualan feronikel turun 4% menjadi 7.791 TNi. “Penurunan volume penjualan feronikel merupakan dampak dari pekerjaan penggantian roof di Electric Smelting Furnace-3 (ESF-3) dan optimalisasi fasilitas produksi pabrik FeNi III yang memiliki kapasitas produksi 10.000 TNi per tahun,” kata Arie.

Penggantian roof ESF-3 telah selesai pada Maret 2017 dan produksi pabrik FeNi III di Pomalaa kembali normal. Penurunan volume penjualan feronikel juga disebabkan kebijakan perseroan untuk melakukan ekspor sebagian besar feronikel pada semester II dengan ekspektasi harga rata-rata nikel akan lebih baik. Per September 2017, harga rata-rata nikel mencapai USD 5,43 per pon.

Volume produksi emas ANTM pada semester I 2017 stabil sebesar 1.013 kg. Volume penjualan emas perseroan turun 38% menjadi 3.298 kg karena gangguan pada fasilitas pemurnian logam mulia yang terjadi pada awal 2017. Gangguan ini telah diatasi dan proses pemurnian emas perseroan kembali normal. (*)

Follow Us

Indexes