Markets Mining & Energy

Kinerja PGAS Diprediksi Tertekan

Kinerja Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) diprediksi masih tertekan oleh lemahnya pertumbuhan pendapatan dan ketidakpastian sejumlah peraturan di bisnis gas. DBS Vickers memperkirakan pendapatan PGAS tahun ini hanya naik 3,07% menjadi USD 3,02 miliar dan laba bersihnya turun 45,39% menjadi USD 166 juta.

Pada kuartal II 2017, PGAS membukukan rugi bersih USD 47 juta karena beban depresiasi dan amortisasi yang lebih tinggi dari ekspektasi, yakni melonjak 80% yoy menjadi USD 172 juta.

William Simadiputra, Analis DBS Vickers, mengatakan bisnis hulu PGAS yang sarat investasi menjadi penyebab utama penurunan kinerja perusahaan. PGAS juga mencatat beban dana yang lebih tinggi sebesar USD 48 juta dari penerbitan obligasi untuk membiayai bisnis hulu. “Ketidakpastian di bisnis hulu menghambat prospek kinerja PGAS kecuali jika harga minyak bisa mencapai USD 70 per barel,” kata William dalam risetnya.

Bisnis hilir PGAS dalam distribusi gas alam masih sesuai ekspektasi. Volume distribusi gas perseroan mencapai 749 mmscfd pada semester I 2017 dengan harga rata-rata gas USD 8,59 per mmbtu. DBS Vickers juga memproyeksikan pendapatan PGAS pada 2018 akan mencapai USD 3,21 miliar dengan laba bersih USD 247 juta.

Dalam sebulan terakhir, harga saham PGAS sudah turun 14,7% menjadi Rp 1.885. DBS Vickers merekomendasikan HOLD saham PGAS dan menurunkan target harga dari Rp 2.700 menjadi Rp 1.900. (*)

Follow Us

Indexes