Finance Industry & Trade Markets

Deloitte Ajak 50 Perusahaan Jajaki IPO

Deloitte Indonesia mengajak 50 perusahaan untuk menjajaki penawaran saham perdana (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Penawaran saham di pasar modal menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan pendanaan perusahaan dan meningkatkan nilai tambah bagi pemegang saham.

Claudia Lauw Lie Hoeng, Country Leader Deloitte Indonesia, mengatakan ada sekitar 50-100 perusahaan klien Deloitte yang menghadiri “Road to Go Public” yang diselenggarakan bersama Bursa Efek Indonesia (BEI). Perusahaan-perusahaan tersebut dalam tahap persiapan IPO. “Soal timing, kapanpun harus siap tetapi saya kira saat ini saat yang tepat karena bursa lagi naik (bullish),” kata Claudia.

Pada 2016, BEI memiliki 537 emiten dengan nilai kapitalisasi pasar Rp 5.753 triliun. Hingga September 2017, jumlah emiten di BEI mencapai 556 perusahaan dengan kapitalisasi pasar Rp 6.473,3 triliun. Pencatatan saham akan membuat bisnis perusahaan berkembang, likuiditas lebih baik, nilai, dan reputasi perusahaan pun meningkat.

Umi Kulsum, Vice President BEI, mengatakan nilai penggalangan dana dari 22 perusahaan yang IPO tahun ini hanya sebesar Rp 4,6 triliun. “Bisa dihitung rata-rata dana yang diperoleh emiten dari IPO nggak besar karena anak-anak usaha BUMN baru akan listing di kuartal IV 2017,” kata Umi. Nilai IPO terkecil sekitar Rp 30 miliar.

Semakin kecil nilai IPO, persentase biaya yang harus dikeluarkan emiten semakin tinggi. Selain itu, likuiditas saham di pasar juga akan ditentukan oleh banyaknya porsi saham yang dilepas. “Kalau underwriter kesulitan untuk mencari investor untuk masuk ke calon emiten, berarti harus ada anchor investor. Solusi lainnya, perusahaan bisa bermitra dengan private equity untuk membesarkan perusahaan dulu sebelum IPO,” kata Umi.

BEI menargetkan 35 perusahaan mencatatkan sahamnya pada tahun ini. IPO dengan nilai besar akan berasal dari beberapa anak usaha BUMN, seperti Garuda Maintenance Facility (GMF) Aero Asia, PP Presisi, Wika Gedung, dan Jasa Armada. (*)