Headline Markets

Risiko Geopolitik dan Inflasi Tekan Bursa

Eskalasi risiko geopolitik yang disebabkan konflik antara Korea Utara dan Amerika Serikat (AS) dan pelemahan inflasi yang berkepanjangan mendorong investor asing melepas portofolionya di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sejak awal tahun ini, nilai net sell investor asing mencapai Rp 16,03 triliun.

Taye Shim, Kepala Riset Mirae Asset Sekuritas Indonesia, mengatakan investor asing menjadi net seller sejak 25 Mei 2017. “Kami tetap berhati-hati terhadap prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia. Masalah  struktural akan membuat investor asing tetap bersikap konservatif,” kata Taye.

Saham-saham yang banyak dilepas investor asing sejak 25 Mei hingga 10 Oktober 2017, antara lain Astra Internasional Tbk (ASII) Rp 8,8 triliun, Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp 4,1 triliun, Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) Rp 3,73 triliun, Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp 2,28 triliun, dan Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp 2,4 triliun.

“Sejak aksi jual dimulai, investor asing melepas saham-saham di sektor yang memiliki bobot besar terhadap indeks. Inflasi rendah akan menambah tekanan jual dari investor asing,” kata Taye. Para pelaku pasar saat ini tengah menyesuaikan diri terhadap kondisi inflasi sehingga dalam jangka pendek tekanan jual di BEI akan berlanjut.

Mirae mengurangi eksposur di saham BBCA, BMRI, Gudang Garam Tbk (GGRM), dan TLKM. Adapun saham-saham yang dimasukkan ke dalam portofolio Mirae adalah Sri Redjeki Isman Tbk (SRIL) dan Bukit Asam Tbk (PTBA) yang memiliki potensi kenaikan harga cukup tinggi. Mirae merekomendasikan BUY saham PTBA dengan target harga Rp 16.100. Saham SRIL berdasarkan konsensus analis direkomendasikan BUY dengan target Rp 515. (*)

Follow Us

Indexes