Finance Headline Industry & Trade Markets

Peluang Window Dressing Tahun Ini Berkurang

Peluang terjadinya aksi window dressing pada akhir tahun ini diestimasi berkurang. Investor asing diprediksi akan melanjutkan aksi jual karena inflasi yang rendah dan valuasi Bursa Efek Indonesia (BEI) yang sudah cukup mahal.

Taye Shim, Kepala Riset Mirae Asset Sekuritas Indonesia, mengatakan ada dua masalah fundamental yang menjadi perhatian investor asing, yakni inflasi dan belanja pemerintah. “Berdasarkan tren 12 bulan terakhir, ada korelasi yang kuat antara inflasi dan aksi beli investor asing,” kata Taye.

Pada saat inflasi naik, investor asing mencatatkan net buy sedangkan ketika inflasi turun, investor asing melakukan net sell. Tren serupa terlihat pada saat pemerintah mengumumkan realisasi belanja pemerintah. Inflasi yang rendah membuat perusahaan-perusahaan di sektor konsumer dan manufaktur kesulitan menaikkan harga jual produknya. Hal yang bisa mereka lakukan untuk mempertahankan margin adalah melakukan efisiensi.

“Kami tidak melihat akan ada pembalikan tren inflasi dalam waktu dekat. Untuk sementara waktu, tekanan jual yang dilakukan investor asing terhadap aset-aset di Indonesia akan berlanjut,” kata Taye.

Di sisi lain, valuasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berdasarkan price earning ratio (PER) mencapai 23,6 kali. Valuasi tersebut tergolong mahal dibandingkan dengan indeks MSCI Emerging Market sebesar 16,1 kali, indeks Bursa China 17,6 kali, Korea 17,4 kali, Malaysia 16,8 kali, Taiwan 16,2 kali, dan Thailand 16,1 kali. Berdasarkan price to book value (PBV), valuasi IHSG mencapai 2,4 kali sedangkan MSCI EM 1,7 kali, China 1,8 kali, Korea 1,1 kali, Taiwan 1,8 kali, Thailand 1,9 kali, dan Malaysia 1,7 kali.

Oleh karena itu, potensi aksi window dressing dari investor asing diprediksi sangat kecil. “Investor lokal bisa saja melakukan window dressing tetapi tidak diketahui seberapa besar dana yang dimiliki. Saya kira aksi window dressing tidak akan terlalu agresif,” kata Taye. Selama ini investor lokal mampu mengimbangi aksi jual yang dilakukan investor asing sehingga IHSG mampu menghijau meskipun asing mencatat net sell.

Mirae Asset memprediksi IHSG masih berpotensi mencapai level 6.241 poin pada akhir 2017 yang mencerminkan PBV 2,7 kali. Mirae meningkatkan posisi kas dari 6% menjadi 10% dengan menurunkan eksposur pada saham Bank Central Asia Tbk (BBCA), Bank Mandiri Tbk (BMRI), Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), dan Gudang Garam Tbk (GGRM). Adapun saham-saham yang ditingkatkan porsinya adalah Jasa Marga Tbk (JSMR), Sri Redjeki Isman Tbk (SRIL), dan Bukit Asam Tbk (PTBA). (*)