Consumer Industry & Trade Markets

AISA akan Fokus ke Bisnis Makanan

Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA) akan fokus ke bisnis makanan pasca divestasi divisi beras di bawah PT Dunia Pangan. Perseroan memperkirakan pendapatan akan kembali normal ke level Rp 5 triliun sekitar 1-2 tahun pasca divestasi tersebut.

Sjambiri Lioe, Finance Coordinator AISA, mengatakan perseroan menargetkan divestasi Dunia Pangan dapat direalisasikan sebelum akhir tahun ini. “Setelah divestasi ini dilaksanakan, TPS Food akan kembali ke khittahnya jadi hanya akan menjual makanan,” kata Sjambiri.

Perseroan akan menambah produk-produk baru dan menambah kapasitas pabrik. “Produk baru ada banyak, kapasitas pabrik mungkin yang perlu ditambah adalah Taro karena sudah mendekati full capacity,” kata Sjambiri. Perseroan optimistis hingga akhir tahun ini bisnis makanan akan tumbuh di atas 10%.

Perseroan memiliki sejumlah anak usaha di bawah divisi makanan, yakni Tiga Pilar Sejahtera (TPS), Poly Meditra Indonesia (PMI), Balaraja Bisco Paloma (BBP), Putra Taro Paloma (PTP), Subafood Pangan Jaya (SPJ), dan Surya Cakra Sejahtera (SCS). Hingga Juni 2017, pendapatan AISA dari divisi makanan mencapai Rp 1,27 triliun atau 38,48% dari total pendapatan perseroan Rp 3,3 triliun. Sementara itu, divisi beras memberikan kontribusi Rp 2,1 triliun atau 61,52% dari pendapatan perusahaan.

Sjambiri mengatakan, secara rata-rata kontribusi pendapatan dari divisi beras dan makanan dalam beberapa tahun terakhir relatif seimbang sebesar 50%. “Divestasi divisi beras memang akan menurunkan pendapatan. Perlu 1-2 tahun untuk normalize dan kembali ke pendapatan Rp 5 triliun lagi,” ujar Sjambiri. Di sisi lain, pelepasan divisi beras akan menurunkan utang AISA sebesar Rp 2,37 triliun secara bertahap.

Divestasi juga diyakini akan menaikkan price earning ratio (PER) AISA setara dengan kompetitornya di industri makanan, yakni di kisaran 15 kali-20 kali. “Kalau dilihat Indofood dan ROTI mungkin PE sekitar 20 kali. PE AISA masih di level 11 kali karena ada beras yang dianggap sebagai komoditas,” tutur Sjambiri. (*)