Infrastructure Markets Property

Perluasan Pasar Katalis bagi IPO Wika Gedung

Penawaran saham perdana (IPO) PT Wijaya Karya Bangunan Gedung (Wika Gedung) diprediksi cukup menarik. Perseroan memiliki segmen pasar yang luas di bidang jasa konstruksi bangunan gedung dan ekspansi ke bisnis properti akan menambah pendapatan perusahaan di masa depan.

Danny Eugene, Analis Mega Sekuritas Indonesia, mengatakan perseroan memiliki tiga strategi pertumbuhan. Di bisnis inti konstruksi bangunan gedung, perseroan menawarkan cakupan jasa yang luas dari studi kelayakan hingga operation and maintenance.

Strategi perseroan berikutnya adalah backward integration dengan industri beton pracetak, modular, dan geoteknik. Untuk strategi forward integration, perseroan mengubah bisnis properti ke investasi dan konsesi untuk memperoleh seluruh pekerjaan konstruksi dari investasi dan konsesi, serta mendapatkan pendapatan berulang (recurring income).

Pembangunan proyek-proyek infrastruktur yang gencar dilakukan oleh pemerintah membuka sejumlah peluang bisnis bagi perseroan. Perseroan dapat membangun hunian berbasis transit oriented development (TOD) di kota-kota besar. Membidik proyek perkantoran baru dan pusat perbelanjaan, rumah sakit, maupun hotel. Perseroan juga berpotensi menggarap konstruksi bandara baru.

Wika Gedung berencana menawarkan 30%-40% saham atau maksimal 4,47 miliar saham. Menurut Danny, kisaran harga saham IPO Wika Gedung sebesar Rp 290-Rp 456 mencerminkan PE FY17 sebesar 15,2 kali-23,9 kali. Perseroan berpotensi mendapatkan dana Rp 3,24 triliun-Rp 5,09 triliun dari IPO ini.

Hingga 30 Juni 2017, perseroan membukukan pendapatan bersih Rp 1,3 triliun, meningkat 54,39% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Laba bersih perseroan mencapai Rp 101,49 miliar, tumbuh 72,63% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Henny Indrawati, Analis Sinarmas Sekuritas, mengatakan Wika Gedung memiliki valuasi yang menarik jika dibandingkan dengan kompetitornya, seperti Total Bangun Persada Tbk (TOTL) atau Acset Indonusa Tbk (ACST).

“Dengan asumsi perseroan melepas minimal 30% saham kepada publik, PE FY18F berada di kisaran 8,2 kali-12,8 kali,” kata Henny. Sementara itu, PE FY18F untuk TOTL dan ACST masing-masing sebesar 8,5 kali dan 8,2 kali.

Perseroan membukukan total kontrak (order book) senilai Rp 10,02 triliun per Juni 2017 atau 76,9% dari target kontrak 2017. Kontrak tersebut terdiri atas Rp 4,3 triliun kontrak baru dan Rp 5,71 triliun carry over.

Wika Gedung memiliki net margin 8,1% per Juni 2017, naik 70 bps dibandingkan Juni 2016 sebesar 7,4%. Sinarmas Sekuritas memprediksi net margin perseroan pada 2018 akan turun karena perseroan membutuhkan belanja modal (capex) yang besar untuk ekspansi di backward maupun forward integration. (*)