Industry & Trade Infrastructure Markets

PGAS Revisi Capex Jadi USD 300 Juta

Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) merevisi alokasi belanja modal (capex) tahun ini menjadi USD 300 juta dari sebelumnya USD 500 juta. Penurunan ini dilakukan untuk menyesuaikan dengan pelemahan kondisi ekonomi.

“Industri sedang turun permintaannya, ini revisinya lebih karena kondisi ekonomi,” kata Rachmat Hutama, Sekretaris Perusahaan PGAS. Alokasi capex PGAS untuk sektor industri mencapai 60%-70% dari total capex. Sisanya untuk konsumen rumah tangga dan komersial, seperti rumah sakit, hotel, restoran, dan usaha kecil menengah (UKM). Perseroan menggunakan kas internal untuk mendanai belanja modal tersebut.

Meskipun permintaan dari sektor industri menurun, PGAS tetap optimistis mendorong penggunaan gas, khususnya untuk bahan bakar industri. Desy Anggia, Division Head of Corporate Communication PGAS, mengatakan industri bisa menekan biaya produksi hingga 40% dengan menggunakan gas bumi.

Pelaku industri dalam negeri semakin banyak beralih ke bahan bakar gas bumi karena bersih, aman, efisien, dan ketersediaannya terjamin. “Bagi industri, kepastian pasokan energi itu salah satu hal paling penting,” kata Desy.

Desy mencontohkan, PT Fajar Surya Tridasa, pabrik kertas di Bekasi, beralih dari bahan bakar liquefied petroleum gas (LPG) ke gas bumi PGAS pada pertengahan tahun lalu karena harganya lebih murah. Harga rata-rata gas bumi PGAS adalah USD 8 per mmbtu sedangkan LPG USD 12 per mmbtu. Selain mendistribusikan gas bumi melalui pipa, PGAS juga memasarkan Compressed Natural Gas (CNG) untuk pelanggan komersial dan transportasi.

Hingga kuartal III 2017, PGAS membukukan pendapatan USD 2,16 miliar, relatif flat seperti periode yang sama tahun lalu. Laba bersih perseroan mencapai USD 97,9 juta. Volume gas bumi yang disalurkan PGAS pada periode tersebut mencapai 1.502 juta kaki kubik (mmscfd), terdiri atas volume gas distribusi 767 mmscfd dan transmisi gas bumi 736 mmscfd. (*)