Margin Emiten Poultry Diprediksi Stabil
ayam dan telur

Margin Emiten Poultry Diprediksi Stabil

Margin emiten sektor perunggasan (poultry) diprediksi akan lebih stabil pasca keluarnya Peraturan Menteri Pertanian tentang penyediaan, peredaran, dan pengawasan ayam ras serta telur konsumsi. Kebijakan ini menjaga volatilitas harga ayam dan telur sehingga kinerja perseroan lebih bisa diprediksi.

Michael Setjoadi, Analis Bahana Sekuritas, mengatakan pemerintah serius ingin menjaga inflasi rendah tanpa mengganggu kinerja perusahaan besar yang bergerak di industri ayam dan telur, seperti Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dan Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA). “Japfa dan Charoen sebenarnya sudah mengikuti aturan baru tersebut. Ke depan, kinerja mereka akan lebih stabil sebab pemerintah membatasi minimal 50% stok day old chick (DOC) harus dijual kepada peternak independen,” kata Michael. Dengan demikian, JPFA dan CPIN tidak bisa menjual stok DOC lebih banyak kepada peternak yang sudah bekerja sama dengan mereka.

Sebelum aturan ini dikeluarkan, saat harga ayam jatuh di pasaran, para peternak akan menjual semua ayamnya kepada perseroan karena sudah ada kesepakatan harga beli kembali oleh perseroan. Sebaliknya jika harga ayam di pasar naik, peternak akan mengklaim hasil ternak mereka tidak maksimal sehingga jumlah ayam yang dijual kepada emiten lebih sedikit.

Pemerintah juga membuka kembali keran impor ayam meskipun produksi dalam negeri mengalami kelebihan pasokan (oversupply). “Impor daging ayam tidak akan mempengaruhi kinerja JPFA dan CPIN karena masyarakat lebih menyukai konsumsi ayam segar daripada ayam beku. Ayam impor juga belum mendapat sertifikasi halal,” kata Michael.

Bahana Sekuritas memperkirakan pendapatan JPFA pada akhir 2017 akan naik 9% menjadi Rp 29,54 triliun. Namun, laba bersih perseroan akan turun 44% menjadi Rp 1,5 triliun karena kenaikan harga pakan ternak. Pada 2018, pendapatan perseroan akan naik 7% menjadi Rp 31,59 triliun dengan laba bersih Rp 1,57 triliun.

Pendapatan CPIN hingga akhir tahun ini diperkirakan meningkat 25% menjadi Rp 47,89 triliun. Laba bersih perseroan juga diestimasi naik 14% menajdi Rp 2,53 triliun. Sementara itu, pada 2018 pendapatan CPIN akan naik 8% menjadi Rp 51,61 triliun dengan laba bersih yang tumbuh 35% menajdi Rp 3,42 triliun.

Bahana merekomendasikan BELI saham JPFA dengan target Rp 1.650 per saham karena valuasi harga saham emiten ini dinilai masih murah. Adapun saham CPIN direkomendasikan HOLD dengan target harga Rp 3.200 per saham. (*)

Leave a Reply

Close Menu