Headline Markets Property

Sektor Logistik dan E-Commerce Pacu Permintaan Gudang

Pertumbuhan industri logistik dan e-commerce akan memacu permintaan terhadap properti pergudangan. Fasilitas pergudangan dengan skema build to suit menjadi pilihan tenant di sektor logistik dan e-commerce.

Anton Sitorus, Director Research & Consultancy Savills Indonesia, mengatakan saat ini pasokan properti pergudangan di Indonesia mencapai lebih dari 8 juta m2. Properti ini sebagian besar ditempati oleh perusahaan-perusahaan penyedia jasa third party logistics (3PL), consumer goods, dan e-commerce.

Industri logistik di Indonesia jauh tertinggal dibandingkan negara-negara tetangga di Asia Tenggara. Indonesia berada di peringkat ke-63 dalam Indeks Kinerja Logistik versi World Bank, jauh di bawah Singapura di peringkat ke-5, Malaysia ke-32, dan Thailand ke-45.

Padahal, potensinya sangat besar seiring dengan pertumbuhan pasar barang konsumsi. Nilai rata-rata penjualan fast moving consumer goods (FMCG) di Indonesia mencapai USD 10 miliar per tahun.

Industri logistik juga tidak bisa dipisahkan dari perkembangan e-commerce. Volume penjualan e-commerce di Indonesia pada 2016 mencapai USD 5,29 miliar, tertinggi di Asia Tenggara. Volume penjualan e-commerce di Indonesia pada 2021 diprediksi mencapai USD 14,47 miliar dan berkontribusi 7%-8% pada pasar ritel. Saat ini kontribusi e-commerce terhadap penjualan pasar ritel baru 1%.

“Saat ini kebutuhan properti pergudangan untuk e-commerce mencapai 220.000 m2. Pada 2021, diperlukan tambahan ruangan sebesar 240.000 m2 untuk mendukung ekspansi volume penjualan e-commerce,” kata Anton.

Saat ini rata-rata tarif sewa properti pergudangan modern di lokasi utama mencapai Rp 60.000-Rp 80.000 per m2 per bulan. Pada 2023, tarif sewa ini akan naik menjadi Rp 130.000 per m2 per bulan. Pertumbuhan biaya sewa mencapai 5%-7% per tahun dengan rental yield 6%-8%.

“Harga lahan industri akan bervariasi tergantung lokasi dan daerah yang memiliki konektivitas infrastruktur lebih besar akan menetapkan harga lebih tinggi,” kata Anton.

Saat ini rata-rata harga jual lahan industri di Bekasi mencapai Rp 3,05 juta per m2, Tangerang Rp 2,7 juta per m2, Bogor Rp 2,8 juta per m2, dan Karawang Rp 2,3 juta per m2.

Build to Suit

Untuk properti dengan skema build to suit, biasanya pengembang meminta tenant menyewa dalam jangka panjang, misalnya 10 tahun. Pengembang akan membangun fasilitas pergudangan sesuai spesifikasi desain, struktur, kapasitas, dan ukuran yang diinginkan tenant. Setelah properti tersebut selesai, pengembang bisa mempertahankan kepemilikannya di properti tersebut untuk mendapatkan recurring income. Pengembang juga bisa menjual properti tersebut sebagai properti investasi kepada investor.

Contoh fasilitas pergudangan dengan skema build to suit ini antara lain Kamadjaja Logistics Park (KLOG Park) yang dikembangkan PT Kamadjaja Logistics, Intirub Business Park yang dimiliki Mega Manunggal Property, dan Logos Metrolink Logistics Hub yang dikembangkan Logos, pengembang spesialis properti pergudangan asal Australia.

Selain itu, ada dua pemain properti pergudangan yang melayani perusahaan e-commerce skala kecil, yakni aCommerce dan 8Commerce. ACommerce yang berasal dari Thailand ini memiliki 17 hub yang tersebar di Jabodetabek, Medan, Makassar, Yogyakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, Manado, Denpasar, Lampung, dan Palembang. Total luas properti yang disediakan 30.000 m2 dengan kapasitas penyimpanan 3 juta unit.

8Commerce memiliki 7 hub yang tersebar di Jabodetabek, Medan, Surabaya, Semarang, Pontianak, Bandung, dan Palembang. Total luas properti 92.000 m2 dan kapasitas penyimpanan 9 juta unit. (*)

About the author

Hari Widowati

Add Comment

Click here to post a comment